“Pemaksaan” pelayanan, rekam medis dan sistem informasi

Berangkat ke rumah sakit pagi-pagi (sesegera) dan berharap cepat di tangani. Mungkin itu niat, maksud dan hal yang pasti terbesit di kantong benak mereka yang ‘sedang’ tidak merasa sehat alias sakit. Mendatangi rumah sakit dan secara ‘terpaksa’ mengikuti prosedural yang ada, seperti daftar (rekam medis), antri (rekam medis), bayar, antri (rekam medis) (lagi), ke poliklinik tujuan, antri (rekam medis) (lagi), diperiksa dokter (rekam medis), ke apotek, antri (lagi) dan pulang (antri lagi) ambil parkiran😀

Seperti itulah, ‘rutinitas pemaksaan’ yang di hadapi. Klise memang, rumah sakit pasti tidak punya niatan sedikitpun untuk membuat pasien terlihat berjubel mengantri pembagian sembako, sementara itu, pelayan kesehatan (petugas/karyawan yang melayani) tak bisa berbuat apapun ketika rutinitas tersebut menjadi pemandangan biasa yang lalu lalang di hadapan mereka. Lalu, siapa?apa?

Beberapa waktu lalu (sudah lama), saya sempat beradu argument dengan teman saya (meski hny melalui jejaring pertemanan), tentang mindset yang namanya ‘hak berbicara’ dalam suatu instansi, bukan memutuskan lho. Teman saya menganggap, “sing iso ngomong gur sing duwur2, sing ngisor2 ki mung sendiko dawuh, pelaksana”. Wah.., musibah. apa pendapat anda tentang statement ini? Tulis di komeng.hehe. ok, menurut hemat saya, siapapun anda, anda berhak bicara dan didengarkan, apapun yang anda usulkan dan apa yang anda sarankan. Masalah justifikasi, nah itu beda jalur (tapi seharusnya sama, wong kita juga bisa memutuskan kok, dari sisi sebagai manusia).

Kembali ke tukul blog, kasus ini sering saya alami. Melihat pelayanan kesehatan yang berjalan ‘setengah2’ dan pemutusan ‘menjadikan tidak setengah2’ yang terkesan lamban, atau bahkan kurang keberanian (ntah kurang keberanian, ntah urusan birokrasi, saya tidak terlalu tertarik untuk membahas). Ketika ada beberapa pihak yang mengeluhkan pelayanan yg kian hari kian menjadi prioritas utama sebuah instansi pelayanan kesehatan dan membutuhkan win win solution untuk terus bisa mengimbanginya, maka ketika itu pihak manajemen harus mampu jeli melihat dan membuat skala prioritas dengan efektif, apa yang menjadikan solusi dan kapan solusi ini segera dapat terimplementasikan dengan baik.

Sekarang, coba anda cermati poin dari paragraf 1 di atas, sekian panjangnya proses yang di lalui seorang pasien. Separoh perjalanannya, melibatkan rekam medis! Mungkin beberapa anda masih asing, rekam medis menurut saya bisa mewakili berkas catatan riwayat kesehatan pasien di RS, nama unit/bagian di RS dengan berbagai proses pengolahan dan pengelolaan data di dalamnya, sistem pelayanan rekam medis (alur pelayanan yang melibatkan rekam medis di bawa-bawa (terkait andil rekam medis, red), dari pendaftaran sampai berkas rekam medis dikembalikan ke bagian rekam medis).

Bisa anda bayangkan, jika proses untuk 1 orang pasien mulai pendaftaran sampai selesai pemeriksaan dan pulang membutuhkan waktu sekitar 15 menit, lalu jika dikalikan dengan jumlah pasien 700 setiap harinya, berapa waktu yang di butuhkan dan berapa jumlah tenaga (SDM) untuk mengimbanginya (yg berkompeten tentunya)?hasil perhitungan calculator menunjukkan 700 x 15 menit = 10.500 menit = 175 jam = 7 hari (jika buka 24 jam), jika tidak = 21 hari (bener g si??) Dweng!prang! lalu, bagaimana caranya rumah sakit menjalani ini semua ya?? #ekspresi polos, cupu, lugu😀  Pikirkan dan tatap mata saya. Jika jawaban anda sistem informasi, dibutuhkan yg setengah jadi ato seutuhnya?jika tidak, adakah yang salah dengan proses manual yang telah dikerjakan?lalu bagaimana dengan laporan atau output yang dihasilkan dari sistem informasi tersebut?apakah kesan ‘pemaksaan’ pelayanan yang lama oleh pasien akan terulang ?

Jawabannya, tidak. Jika :

  1. Manajemen mau memutuskan pengadaan sistem informasi yang tidak setengah2
  2. SDM terkait mau menjalankan dg jobdes yang sedemikian rupa dan berkompeten

Dengan 2 opsi itu, maka pelayanan kesehatan (dalam hal ini rumah sakit) “diuntungkan” :

Internal :

  1. Efisiensi waktu dan tenaga, tidak perlu butuh waktu 21 hari (sesuai perhitungan permisalan di atas) dan banyak tenaga untuk menangani pasien dengan jumlah tersebut.
  1. Output laporan tepat waktu dan validitas data terjamin
  2. Pelayanan pasien cepat, komplain pasien minim.

Eksternal :

  1. Mutu performance rumah sakit berkembang baik di masyarakat

Jadi, apa yang anda pilih, yang anda putuskan, sedikit banyak pasti membawa hasil. Jangan hanya berkarya dalam bekerja, suarakan dan putuskan. Siapkan untuk perubahan! Ok. Bagaimana pendapat anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s