Antara Bingung dan Nurut

Pojok cempaka 14/07/11, 17.15-17.35

Seperti biasa, kebiasaan keluarga ku di sore hari adalah duduk-duduk di beranda rumah sambil bercerita ngalor ngidul. Alkisah sore itu sibuk berbincang tentang mila (3 tahun) (keponakanku) yang belum terbiasa dengan pembantu barunya (krn pembantu yg lama terbaring sakit dan musti butuh waktu rehabilitasi yang cukup lama). Wajahnya lucu, ekspresinya sedikit tampak lugu, sedikit membuka diri dan sambil malu-malu ngobrol dan bercengkrama dengan pembantu barunya. Namun, bukan itu yang akan saya ceritakan di sini…hoho.

5 menit berlalu, datanglah tetanggaku (yang selanjutnya saya sebut bu. T) dengan mengendarai sepeda motor. Semua yang ada di beranda lantas kaget, mengingat bu. T beberapa hari yang lalu menjadi susah berjalan akibat terdapat nanah yang lumayan besar di tumit kakinya. Percakapan ringan pun terlontar…

Ibuku : “lho, bu.T, jarene sikil e loro, lha ko wes jebus ndi2 mbek sepeda motoran?”

(lho, bu. T, katanya kaki nya sakit, lha ko sudah dari mana-mana pakai sepeda motor)

Bu. T : “ceritane ki, aku lak ga isoan se bu, dadi ta gowo nang rumah sakit”

(ceritanya, aku kan ga bisa sabar nunggu lama, jadi ta bawa ke rumah sakit)

Ibuku : “ooo…lha jarene wingi nanah e wes di tokno?”

(ooo…katanya, kmrn sudah di operasi kecil nanahnya?)

 

Bu. T lalu bercerita kronologis kejadiannya, berikut TKP ala Bu.T (bercerita sambil berdiri, dengan full ekspresi)

Bu. T : “pertama ki ta gowo nang poli dalam bu….” Belum lengkap cerita Bu. T, mbakku langsung kaget dan langsung memutus pembicaraan bu. T

Mbakku : “lho…ko nang poli dalam bu…???” sambil berfikir dalam-dalam.

(lho, ko di bawa ke poli dalam bu??)

Bu.T : “sek ta lah, ngene lo ceritane…”

(sebentar,begini ceritanya….)

Kejadian 5 hari yang lalu, TKP 1 : Puskesmas terdekat rumah.

Bu.T : “bu, nyuwun rujukan kagem ten rumah sakit, niki sluku kulo nanah-en”

(bu,.minta rujukan ke rumah sakit, ini kaki saya ada nanahnya besar)

Dokter : “ooo…nggeh…mengkeh ten poli dalam nggeh bu…” sambil menandatangi kertas rujukan plus stempel jedog puskesmas.

(o iya…nanti ke poli dalam ya bu…)

Bu. T terdiam, sambil tidak menyanggah sedikitpun, meski dia sedikit agak ragu, ko saya di bawa ke poli dalam

TKP 2 : Rumah sakit, di poli dalam.

Bu. T : duduk di depan dokter sambil diperiksa kakinya.

Dokter : “habis ini, ibu ke ruang foto nggeh bu, di foto, kemudian besok puasa dulu, trus ke laboratorium untuk diambil darahnya”

Bu. T : “lalu, obatnya apa dok?”

Dokter : “nanti setelah saya mengetahui hasilnya ya bu..”

Bu. T : “ya..” menuruti, meskipun tetap bingung dan bertanya-tanya sendiri dalam hati.

Keesokan harinya, tetap di TKP 2, Bu. T tiba di lab dan diambil darahnya. Kemudian, setelah menunggu 2 hari-an, bu. T pun kembali ke dokter semula di poli dalam untuk mengetahui hasilnya, dan tidak lain ingin segera mendapatkan obat karena beliau sudah tidak nyaman dengan rasa sakit di kaki nya.

Dokter : “hasil lab nya bagus bu, ndak ada masalah. Sementara hasil foto menunjukkan, ibu kena keropos tulang bu”

Bu. T : “oooo…” hanya bisa melongo dan semakin bertanya-tanya sendiri.

Beberapa hari kemudian, rasa sakit dan tidak nyaman di kakinya membuat bu. T tidak bisa berjalan dengan baik dan tentu saja itu menyebabkan mobilitasnya menjadi sangat jauh berkurang, dan yang saya tau, bukan beliau jika hanya duduk terdiam di rumah terus. Dengan diantar menantunya, beliau ingin ke UGD, dengan harapan ingin melakukan operasi kecil yaitu mengeluarkan isi berupa nanah tersebut.

TKP 3 : UGD

Suster : sambil melihat luka bu. T “ooo….niki di beto ten poli bedah mawon bu…”

(ooo…ini di bawa ke poli bedah saja bu..)

Bu. T bergumam dalam hati “lha iyo mba, ket wingi ki aku yo wes pengen ngunu, lha tapi aku mikir, aku lak bodo, dadi aku manut dokter e ae”

(lha iya mba, dari kemaren saya juga ingin seperti itu, tapi saya piker, saya kan bodoh, jadi saya nurut dokter nya saja)

Dari TKP 3 ini pun, masih belum mengambil nanah nya bu T.

Keesokan harinya, kembali ke TKP 1

Bu.T : “bu..nyuwun rujukan datang poli bedah ten rumah sakit nggeh…”

Dokter : “oo..nggeh bu..”

Bu. T lantas bergegas ke rumah sakit, tentunya dengan menahan rasa sakit yang amat sangat.

TKP 4 : Poli bedah, RS

Bu. T : memperlihatkan luka di kakinya…lantas memberikan hasil lab dan foto beberapa hari yang lalu ke dokter poli bedah

Dokter :”lho…lha ini ko yang di foto dengkul e njenengan bu….?

(lho..yang difoto ko lutut ibu?)

Bu. T : “lha nggeh niku dok sing kulo bingung, wong sing loro tumit e ko sing di foto dengkul kulo”

(lha ya itu dok yang membuat saya bingung, yang sakit tumit saya tapi yang di foto kok lutut saya)

Dokter :”nggeh sampun, ibu baring mriki….”

(silahkan ibu berbaring di sini..)

Dokter pun langsung melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan nanahnya, dan sekarang bu. T lega karena tidak lagi merasakan rasa sakit di kakinya, dan tentu saja mobilitas tinggi beliau bisa kembali.

Kembali ke pojok cempaka, saya lantas mencoba memberikan sedikit ‘pencerahan’ ke bu.T, mengapa ibu diminta untuk tes laboratorium mungkin karena menurut dokter yang bersangkutan, ibu terindikasi asam urat. Lalu, mengapa di minta untuk foto, nah itu mungkin dikira keropos tulang (anggap aja nanah nya ndak kliatan)

Singkat cerita diatas saya kutip tidak ada maksud sedikitpun untuk memojokkan pelayanan instansi manapun (TKP), yang ingin saya sampaikan adalah panjangnya proses untuk operasi kecil nanah (tidak gawat) dan tidak diberikannya alasan atau informasi lengkap mengenai proses-proses sebelumnya mengapa harus seperti itu. Ini untung saja yang menjadi pasien adalah bu. T, orangnya santai dan tidak pemarah. Jika kebalikannya, apakah itu tidak akan menjadi komplain yang berkepanjangan?belum lagi, apabila penyakit yang ditangani adalah penyakit yang bersifat gawat, apakah tidak menjadi momok yang berujung pada kematian?

Harapan dari sedikit coretan cerita ini, hendaknya para pemberi pelayan kesehatan memberikan informasi yang lengkap untuk si pasien. Karena selain dengan baiknya pelayanan, mengertinya pasien atas informasi yang diberikan terkait penyakitnya merupakan satu point utama dan penting yang membuahkan kepuasan dan tentunya memperlancar kesembuhan pasien itu sendiri. Jika sudah dilakukan, maka bersemangatlah untuk semakin memberi pelayanan yang lebih baik dan pemberian informasi yg lengkap lagi.

Semoga bermanfaat.

b.e.r.s.a.m.b.u.n.g

2 thoughts on “Antara Bingung dan Nurut

    • kalau d rumah sakit kan ada bagian2 khusus utk setiap masalah yang ditangani.
      utk masalah gigi, d poli gigi
      utk masalah kandungan, di poli kandungan,
      untuk masalah syaraf, di poli syaraf, dan seterusnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s