“Pemaksaan” pelayanan, rekam medis dan sistem informasi

Berangkat ke rumah sakit pagi-pagi (sesegera) dan berharap cepat di tangani. Mungkin itu niat, maksud dan hal yang pasti terbesit di kantong benak mereka yang ‘sedang’ tidak merasa sehat alias sakit. Mendatangi rumah sakit dan secara ‘terpaksa’ mengikuti prosedural yang ada, seperti daftar (rekam medis), antri (rekam medis), bayar, antri (rekam medis) (lagi), ke poliklinik tujuan, antri (rekam medis) (lagi), diperiksa dokter (rekam medis), ke apotek, antri (lagi) dan pulang (antri lagi) ambil parkiran 😀

Seperti itulah, ‘rutinitas pemaksaan’ yang di hadapi. Klise memang, rumah sakit pasti tidak punya niatan sedikitpun untuk membuat pasien terlihat berjubel mengantri pembagian sembako, sementara itu, pelayan kesehatan (petugas/karyawan yang melayani) tak bisa berbuat apapun ketika rutinitas tersebut menjadi pemandangan biasa yang lalu lalang di hadapan mereka. Lalu, siapa?apa?

Beberapa waktu lalu (sudah lama), saya sempat beradu argument dengan teman saya (meski hny melalui jejaring pertemanan), tentang mindset yang namanya ‘hak berbicara’ dalam suatu instansi, bukan memutuskan lho. Teman saya menganggap, “sing iso ngomong gur sing duwur2, sing ngisor2 ki mung sendiko dawuh, pelaksana”. Wah.., musibah. Continue reading

Advertisements

Rancangan pemindahan berkas Rekam Medis dari Desentralisasi Ke Sentralisasi

mrSetelah hampir 1 bulan merasakan bekerja di bagian rekam medis,yg ternyata akan direncanakan untuk mengubah sistem pengelolaan berkas rekam medis dari desentralisasi (terpisah antara rawat jalan dan rawat inap) menjadi sentralisasi (terpusat) maka saya kembali untuk melihat dan mengingat tugas akhir yg saya kerjakan untuk memperoleh gelar Ahli Madya dalam Bidang Rekam Medis dan Informasi Kesehatan.Ya..sebuah rancangan yg mungkin mudah untuk di buat dan di bayangkan,,tapi membutuhkan keputusan tegas dan team work yang kuat untuk menjalankan dari salah satu alternatif rancangan pemindahan yg akan di pilih.

Berikut ringkasannya 🙂
Latar belakang
1. Diketahui bahwa cara pengurusan penyimpanan terbagi di lokasi yang berbeda (desentralisasi).
2. Dengan penelusuran sistem desentralisasi tersebut, ditemukan beberapa permasalahan yaitu data dan informasi mengenai pasien tidak dapat terkumpul dengan baik di satu tempat sehingga informasi yang diperoleh dokter maupun tenaga kesehatan lainnya pada saat melakukan pemeriksaan menjadi kurang lengkap.
3.Banyak terjadi penduplikasian berkas rekam medis dan pengawasannya sulit untuk dilakukan.

Tujuan
Membuat rancangan pemindahan berkas rekam medis dalam mempersiapkan perubahan pengurusan penyimpanan dari desentralisasi ke sentralisasi

Landasan teori
Huffman (1994 ; 317) mengemukakan bahwa jika cara sentralisasi diterapkan bersama-sama dengan terminal digit filing system pada fasilitas pelayanan kesehatan maka akan diperoleh rekam medis yang sangat baik, efisien serta meningkatkan pelayanan kepada pasien, dokter serta pihak lain
yang menbutuhkan.
If a centralized unit system is coupled with terminal digit filing in health care facilities where the activity of the record is very great, efficient and improved services for the patient physicians and other personel should be result
Idealnya, menurut WHO (1992 ; 39) untuk mengontrol semua informasi medis pasien yang baik seharusnya disimpan di satu folder, satu tempat atau satu file. Hal ini akan memudahkan dalam hal pengendalian informasi karena disimpan di satu tempat dengan satu nomor.
Ideally for good control all medical information about a patient should be stored in the on folder in the one place or file. This make retrieval of information easy becaused it is filed in one place under one number

brmRancangan pemindahan berkas rekam medis
ada 3 alternatif beserta keuntungan dan kerugian dari masing-masing alternatif, rancangan tersebut yaitu sebagai berikut Continue reading